Indikator Kejenuhan
Transaksi yang dilakukan dalam perdagangan berjangka sering mengikuti arah pergerakan harga ( TREND ) atau biasa disebut dengan FOLLOW MARKET . Kecenderungan harga arah naik para trader juga mengikutinya dengan transaksi pembelian ( BUY ), begitupun apabila pergerakan harga arah turun para trader juga mengikutinya dengan transaksi penjualan ( SELL ).
Namun perlu diingat bahwa pergerakan arah harga yang sangat cepat dengan arah yang jelas itu sering mengalami kejenuhan dan ini biasanya mengakibatkan terjadinya pembalikan arah harga secara sementara yang sering diistilahkan KOREKSI / Retrecement. Pembalikan arah harga biasanya diakibatkan para trader melakukan tindakan AMBIL UNTUNG ( Taking Profit ). Jikalau tadinya para trader banyak melakukan pembelian karena pergerakan harga arah naik, maka setelah mereka meliha posisi harga sudah memberikan keuntungan secara beramai-ramai menjual / melepas posisi beli yang telah ada. Begitupun sebaliknya sewaktu gerakan turun , penjualan yang telah dia lakukan terdahulu setelah harga sudah rendah mereka menutup transaksinya dengan melakukan pembelian.
Indikator yang sering digunakan untuk membaca tingkat kejenuhan pasar itu cukup banyak tersedia. Sebagai contoh adalah Relative Strenght Index ( RSI ). Indikator mempunyai nilai range dari angka nol sampai seratus ( 0 – 100 ). Penunjukan dibawah angka 30 ini mengidikasikan kondisi pasar jenuh penjualan ( Over Sold ) dan penunjukan diatas 70 mengindikasikan pasar jenuh pembelian ( Over Bought ). Selain itu indikator ini juga dapat digunakan untuk melihat posisi aman untuk Beli dan Jual .
Indikator ini justru sering digunakan untuk mencari entry point yang tepat untuk melawan arah harga ( Fight Market ) dengan menunggu adanya sinyal Convergen – Divergen. Karena dengan sinyal tersebut, menunjukkan adanya pembalikan arah harga dalam waktu yang lama ( REVERSAL ).



